Wednesday, 13 November 2019

Hukum-hukum Mengenai Jenazah (Risalah Janaiz)

Kematian merupakan suatu yang pasti dialami oleh seluruh makhluk Allah, tak terkecuali manusia. Dalam suatu riwayat, yaitu kisah Nabi Adam As, anak-anak beliau yaitu Qabil dan Habil adalah dua saudara yang memiliki hubungan kurang harmonis. Dalam surat Al-Maidah, diceritakan bahwa Qabil merupakan manusia pertama yang melakukan pembunuhan, yaitu membunuh saudaranya Habil, karena Qabil iri terhadap hewan kurban milik Habil.

Setelah peristiwa pembunuhan tersebut, Qabil bingung, bagaimana mayat saudaranya tersebut diurus, apa dihanyutkan ke sungai, atau dibakar, atau dibiarkan begitu saja. Lalu datanglah seekor burung gagak yang membawa burung gagak lain yang telah mati, lalu dia mengorek-orek tanah, lalu menguburkan burung mati tersebut didalamnya.

Dari burung gagak tersebut, Qabil mendapat ide bahwa dalam mengurus jenazah saudaranya tersebut, hendaknya ia menguburkan ke dalam tanah. Lalu Qabil pun menggali tanah, dan menguburkan saudaranya, Habil. Dan sampai saat ini, umat Islam di seluruh dunia mempraktekan cara tersebut, yaitu menguburkan jenazah sesorang ke dalam tanah.

Berikut adalah hukum-hukum tentang jenazah:
sahabatalaqsha.com


  1. Mencium jenazah 
Kehilangan seseorang yang kita cintai adalah suatu peristiwa yang menyedihkan bagi kita semua. Namun respon seseorang saat ditinggal mati oleh seseorang yang disayangi berbeda-beda. Terkadang kita jumpai ada yang mencium dan menangisi jenazah keluarganya. Lalu bagaimanakah pandangan Islam mengenai hal tersebut:


عن عا ءشة ا ن ا با بكر ر ضي ا لله عنه ا قبل على فر س من مسكنه با لسنح حتى نز ل فد خل ا لمسجد فلم يكلم ا لنا س حتى د خل على عا ءشة , فتيمم ر سو ل ا لله و هو مغشي بثو ب حبر ة فكشف عن و جهه ثم ا كب عليه فقبله و بكى . ثم قا ل با بي ا نت و ا مي , و ا لله لا يجمع ا لله عليك  مو تتين ا ما ا لمو تة ا لتي كتبت عليك فقد متها . ا لبخا ر ى ٥ :١٤٢
Dari 'Aisyah, bahwasanya Abu Bakar RA datang dengan naik kuda dari rumah beliau di Sunhi, lalu dia turun dan masuk ke masjid. Beliau tidak berbicara dengan orang-orang sehingga datang kepada 'Aisyah, lalu beliau menuju kepada Rasulullah SAW (yang telah wafat), yang pada waktu itu beliau ditutup dengan kain buatan Yaman , lalu beliau membuka wajah Rasulullah SAW, lalu mendekap dan menciumnya lalu menangis. Kemudian Abu Bakar berkata, "Aku tebusi engkau dengan ayah da ibuku, Allah tidak akan mengumpulkan kepadamu dua kematian. Adapun kematian yang telah ditetapkan kepadamu, maka engkau telah melaluinya". (HR.Bukhari juz 5, hal. 142) 

Dari hadist tersebut, kita boleh mencium jenazah keluarga atau saudara kita yang telah meninggal. Karena 'Aisyah pun bertindak demikan pada jenazah Rasulullah SAW.

2.   Menangisi Mayit 
badan-huku-m.blogspot.com


Ketika kita ditinggal mati oleh seseorang yang sangat kita sayangi, kita pasti merasa sedih. Sebagai ungkapan kesedihan yang mendalam, terkadang kita tidak mampu membendung air mata kita.
Menangisi jenazah hukumnya mubah atau boleh, asalkan menangisnya dengan wajar / sekedar
meneteskan air mata dan tidak disertai reaksi emosi yang berlebihan.

عن جا بر بن عبد ا لله ر ضي ا لله عنهما قا ل : لما قتل ا بي جعلت ا كشف ا لثو ب عن و جهه ا بكي . و ينهو ني عنه و ا لنبي لا ينها ني , فجعلت عمتي فا طمة تبكي . فقا ل ا لنبي : تبكين ا و لا تبكين ما ز ا لت ا لملا ءكة تظله با جنحتها حتي ر فعتمو ه . ا لبخا ر ى ٢:٧١

Dari Jabir bin 'Abdullah, ia berkata: Ketika ayahku gugur (pada perang Uhud), aku membuka kain penutup wajahnya, lalu aku menangis. Kemudian orang-orang melarangku, sedangkan Nabi SAW tidak melarangku. Lalu bibiku Fathimah (juga) menangis. Lalu Nabi SAW bersabda, "Kamu menangis ataupun tidak, para malaikat tetap menaunginya dengan sayap-sayap mereka, sehingga kalian mengangkatnya". (HR. Bukhari juz 2, hal.71)

Bersambung....

No comments:

Post a Comment